Total Visitors

My Status

Follower

Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Tokoh Tasawuf Sayyidah Nafisah


Sayyidah Nafisah ialah salah satu keturunan Rasulullah s.a.w.. Beliau puteri Imam Hasan al-Anwar bin Zaid al-Ablaj bin Imam Hasan bin Imam Ali r.a.. Beliau lahir di Makkah, pada 11 Rabiulawal 145H, hidup dan besar di Madinah. Sejak berusia lima tahun Sayyidah Nafisah menghafal Al-Qur'an dan mempelajari tafsir Al-qur'an, serta selalu menziarahi makam Kakeknya, Rasulullah Saw. Sayyidah Nafisah terkenal zuhud, berpuasa di siang hari dan bangun di malam hari untuk bertahajud dan beribadah kepada Allah SWT.
Sayyidah Nafisah mulai umur enam tahun selalu menunaikan salat fardu dengan teratur bersama kedua orang tuanya di Masjid Nabawi. Sayyidah Nafisah menikah dengan putra pamannya, Ishaq al-Mu'tamin. Pernikahan itu berlangsung pada tanggal 5 Rajab 161 H. Umur Sayyidah Nafisah ketika itu 16 tahun. Ia dikaruniai seorang putra bernama al-Qasim dan seorang putri bernama Ummu Kultsum. Sayyidah Nafisah menunaikan ibadah haji sebanyak tiga puluh kali, sebagian besar ia lakukan dengan berjalan kaki. Hal tersebut dilakukan karena meneladani kakeknya.
Riwayat-riwayat tentang Sayyidah Nafisah kebanyakan dinisbahkan kepada putri saudaranya, Zainab binti Yahya al-Mutawwaj, yang selalu menyertai dan menemaninya sepanjang hidupnya, serta tidak mau menikah karena ingin selalu melayani dan menyenangkannya. Zainab binti Yahya, saat berbicara tentang Sayyidah Nafisah, mengatakan, "Bibiku hafal Al Qur'an dan menafsirkannya, ia membaca Al Qur'an dengan menangis sambil berdoa.

Hijrah Ke Mesir
Sayyidah Nafisah datang ke Mesir dari Palestina, usianya 48 tahun. Ia tiba pada hari Sabtu, 26 Ramadan 193 H. Sewaktu orang-orang Mesir mengetahui kabar kedatangannya, mereka pun berangkat untuk menyambutnya di kota al-Arisy, lalu bersama-sama dengannya memasuki Mesir.
Sayyidah Nafisah ditampung oleh seorang pedagang besar Mesir yang bernama Jamaluddin 'Abdullah al Jashshash, di rumah ini Sayyidah Nafisah tinggal selama beberapa bulan. Penduduk Mesir dari berbagai pelosok negeri berdatangan ke tempatnya untuk mengunjungi dan mengambil berkah darinya. Nafisah khawatir, hal itu akan menyulitkan pemilik rumah. la pun meminta izin untuk pindah ke rumah yang lain. la kemudian memilih sebuah rumah yang khusus untuknya di sebuah kampung di belakang Mesjid Syajarah ad-Durr di jalan al-Khalifah. Kampung itu sekarang dikenal dengan nama al-Hasaniyyah.
Penduduk Mesir yang telah mengetahui rumah baru yang ditempati oleh Sayyidah Nafisah, segera mendatanginya. Nafisah merasa dengan banyaknya orang yang mengunjunginya, benar-benar menyulitkannya untuk beribadah. Ia berpikir untuk meninggalkan Mesir dan kembali ke Madinah. Orang-orang mengetahui rencana Nafisah untuk meninggalkan Mesir. Mereka segera kepenguasa Mesir, As-Sirri bin al-Hakam, dan memintanya agar meminta Sayyidah Nafisah untuk tetap tinggal di Mesir.
As-Sirri bin al-Hakam kemudian mendatangi Sayyidah Nafisah. Kepada As-Sirri, Sayyidah Nafisah berkata, Dulu, saya memang ingin tinggal di tempat kalian, tetapi aku ini seorang wanita yang lemah. Orang-orang yang mengunjungiku sangat banyak, sehingga menyulitkanku untuk melaksanakan wirid dan mengumpulkan bekal untuk akhiratku. Lagi pula, rumah ini sempit untuk orang sebanyak itu. Selain itu, aku sangat rindu untuk pergi ke raudhah datukku, Rasulullah Saw." Maka As-Sirri menanggapinya, "Wahai cucu putri Rasulullah, aku jamin bahwa apa yang engkau keluhkan ini akan dihilangkan. Sedangkan mengenai masalah sempitnya rumah ini, maka aku memiliki sebuah rumah yang luas di Darb as-Siba' Aku bersaksi kepada Nafisah terkenal sebagai seorang yang zuhud, dan suka beribadah sepanjang hayatnya, Aku harap engkau mau menerimanya dan tidak membuatku malu dengan menolaknya.

Peribadinya
Sayyidah Nafisah adalah seorang yang sangat kuat beribadah kepada Allah. Siang hari dia berpuasa sunat sedangkan pada malamnya dia bertahajjud menghidupkan malam dengan berzikir dan membaca Al Quran. Dia sungguh zuhud dengan kehidupannya. Hatinya langsung tidak terpaut dengan kehidupan dunia yang menipu daya. Jiwanya rindu dengan syurga Allah dan sangat takut dengan syurga Allah. Disamping itu Sayyidah Nafisah sangat taatkan suaminya. Beliau sangat mematuhi perintah suami dan melayan suaminya dengan sebaik-baiknya.
Sayyidah Nafisah adalah seorang yang terkenal zuhud dan mengasihi manusia yang lain. Pernah satu ketika, beliau menerima wang sebanyak 1000 dirham dari raja untuk keperluan dirinya. Beliau telah membahagikan wang tersebut kepada fakir miskin sebelum sempat memasuki rumahnya. Wang hadiah dari raja itu sedikit pun tidak diambilnya untuk kepentingan dirinya. Semuanya disedekahkan kepada fakir dan miskin. Demikianlah dermawannya Sayyidah Nafisah terhadap fakir miskin.

Keutamaannya
Sayyidah yang mulia ini sudah mendapatkan keutamaan sejak kecil lagi. Suatu ketika, demikian al-Hafiz Abu Muhammad dalam kitabnya Tuhfatul Asyraf bercerita: Al-Hasan, ayahanda Sayyidah Nafisah membawa Nafisah semasa kecil ke makam Rasulullah s.a.w.. Di sini sang ayah berkata : “Tuanku, Bagindaku Rasulullah, ini puteriku. Aku redha dengannya. Kemudian keduanya pulang. Di malam hari sang ayah bertemu Rasulullah bersabda: “Wahai Hasan Aku redha dengan puterimu Nafisah kerana keredhaanmu itu. Dan Allah SWT juga redha kerana redhaku itu.
Salah satu keutamaan Sayyidah Nafisah adalah selama hidupnya beliau telah mengkhatamkan al-Quran sebanyak 4000 kali. Selain itu, meskipun tinggal jauh dari tanah suci, beliau melakukan ibadah haji sebanyak 17 kali.

Sayyidah Nafisah dan Imam Syafie
Sejarah sepakat mengatakan bahwa Sayyidah Nafisah semasa dengan Imam Syafie. Keduanya saling menghormati. Di ceritakan bahawa Imam Syafie meriwayatkan hadis dari Sayyidah Nafisah. Setiap berkunjung ke kediaman Sayyidah Nafisah Imam Syafie dan pengikutnya sangat menjunjung tinggi adab sopan santun terhadap beliau.
Imam Syafie setiap tertimpa penyakit selalu mengirim utusan ke Sayyidah Nafisah agar berkenan mendoakannya dengan kesembuhannya. Dan benar, setelah itu Imam Syafie mendapatkan kesembuhan. Ketika Imam Syafie tertimpa penyakit yang menyebabkan beliau wafat, Sayyidah Nafisah berkata pada utusan Imam Syafie: “Semoga Allah memberikan kenikmatan pada Syafie dengan melihat wajahNya yang mulia.”

Karamahnya
Sebelum menceritakan karamah-karamah Sayyidah yang mulia ini, perlu diketahui bahwa suami Sayyidah Nafisah (Ishaq bin al Mu’taman bin Ja’far ash Shadiq) pernah berkeinginan untuk memindah makam beliau ke pemakaman Baqi’ (Madinah). Kemudian penduduk Mesir meminta suami Sayyidah Nafisah untuk mengurungkan keinginannya, kerana penduduk Mesir ingin mendapatkan berkah darinya. Akhirnya, pada suatu malam suami Sayyidah Nafisah bermimpi bertemu Rasulullah s.a.w.. Rasulullah bersabda, “Wahai Abu Ishaq, janganlah kamu menentang keinginan penduduk Mesir, karena Allah akan memberikan berkahNya kepada penduduk Mesir melalui Sayyidah Nafisah”.
Di antara karamahnya ialah ketika pembantu Sayyidah Nafisah yang bernama Jauharah keluar rumah untuk membawakan air wudhu untuk beliau, pada waktu itu hujan deras sekali. Akan tetapi, tapak kaki Jauharah tidak basah dengan air hujan.
Di antara karamahnya juga ialah, ada sebuah keluarga Yahudi yang tinggal di dekat kediaman Sayyidah Nafisah di Mesir. Keluarga itu mempunyai seorang anak perempuan yang lumpuh. Suatu ketika ibu anak itu berkata: “Nak, kamu mahu apa ? Kamu mahu ke kamar mandi ?. Si anak tiba-tiba berkata: “Aku ingin ke tempat perempuan mulia tetangga kita itu.” Setelah si ibu minta izin pada Sayyidah Nafisah dan beliau memperkenankannya, keduanya datang ke kediaman Sayyidah Nafisah. Si anak didudukkan di pinggir rumah. Ketika datang waktu solat Zuhur, Sayyidah Nafisah beranjak untuk berwudhuk di dekat gadis kecil itu. Air wudhuk beliau mengalir ke tubuh anak tersebut. Seperti mendapatkan ilham anak itu mengusap anggota tubuhnya dengan air berkah tersebut. Dan seketika itu juga ia sembuh dan bisa berjalan seperti tidak pernah sakit sama sekali.
Kemudian si anak pulang dan mengetuk pintu. Pintu dibuka oleh ibunya. Dengan hairan dia bertanya: “Kamu siapa Nak?” “Aku puterimu.” Sambil memeluk si ibu bertanya bagaimana ini bisa terjadi. Si anak kemudian bercerita dan akhirnya keluarga itu semuanya masuk Islam.
Selain itu, pernah suatu ketika sungai Nil berhenti mengalir dan mengering. Orang-orang mendatangi Sayyidah Nafisah dan memohon doanya. Beliau memberikan selendangnya agar dilempar ke sungai Nil. Mereka melakukannya. Dan seketika itu juga sungai Nil mengalir kembali dan melimpah.
Karamah-karamah beliau setelah wafat juga banyak. Di antaranya, pada tahun 638H, beberapa pencuri menyelinap ke masjidnya dan mencuri enam belas lampu dari perak. Salah seorang pencuri itu dapat diketahui, lalu dihukum dengan diikat pada pohon. Hukuman itu dilaksanakan di depan masjid agar menjadi pelajaran bagi yang lain. Pada tahun 1940, seseorang yang tinggal di daerah itu bersembunyi di masjid itu pada malam hari. Ia mencuri syal dari Kasymir yang ada di makam itu. Namun, ia tidak menemukan jalan keluar dari masjid itu dan tetap terkurung di sana sampai pelayan mesjid datang di waktu subuh dan menangkapnya.

Wafatnya
Nafisah menggali Kuburnya dengan tangannya sendiri. Ketika Sayyidah Nafisah merasa ajalnya telah dekat, ia mulai menggali kuburnya sendiri. Kubur itu berada di dalam rumahnya. Ia turun ke dalamnya untuk memperbanyak ibadah dan mengingat akhirat.
Al-Allamah al-Ajhuri mengatakan, Nafisah mengkhatamkan Al-Qur'an di dalam kubur yang telah digalinya sebanyak enam ribu kali dan menghadiahkan pahalanya untuk kaum Muslimin yang telah wafat. Ketika sakit, ia menulis surat kepada suaminya, Ishaq al Mu'tamin, yang sedang berada di Madinah dan memintanya datang. Suaminya pun datang bersama kedua anak mereka, al-Qasim dan Ummu Kultsum.
Pada pertengahan pertama bulan Ramadan 208 H, sakitnya bertambah parah, sedangkan ia dalam keadaan berpuasa. Orang-orang menyarankannya untuk berbuka demi menjaga kekuatan dan mengatasi sakit yang dideritanya. Ia pun menjawab, "Sungguh aneh! Selama tiga puluh tahun aku meminta kepada Allah agar Ia mewafatkan aku dalam keadaan berpuasa. Maka bagaimana mungkin aku berbuka sekarang? Aku berlindung kepada Allah. Hal itu tidak boleh terjadi selamanya". Kemudian ia membaca surah al-An'am. Ketika sampai pada ayat, "Untuk mereka itu kampung keselamatan (surga) di sisi Tuhan mereka. Dia penolong mereka berkat amalan yang mereka perbuat," (QS. al-An'am: 127) Nafisah lalu mengucapkan kalimat syahadat, dan naiklah rohnya keharibaan Tuhannya Yang Maha Tinggi, berjumpa dengan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin.
Sebelumnya Nafisah berwasiat kepada suaminya untuk memindahkan jasadnya yang suci dalam peti ke Madinah untuk dimakamkan di sana bersama keluarganya di Baqi'. Namun, penduduk Mesir menentangnya dan menginginkan agar ia dimakamkan di kubur yang telah digalinya dengan tangannya sendiri. Penduduk Mesir mengumpulkan harta yang banyak, lalu menyerahkannya kepada suami Sayyidah Nafisah seraya meminta agar jenazahnya tetap berada di Mesir. Namun suaminya enggan menerima permintaan itu.
Malam itu pun mereka lewati dalam keadaan menderita, padahal mereka orang-orang terkemuka. Mereka tinggalkan harta mereka di tempat Sayyidah Nafisah. Ketika pagi, mereka mendatanginya lagi. Akhirnya suami Sayyidah Nafisah memenuhi pemintaan mereka untuk memakamkan istrinya di tempat mereka, namun ia mengembalikan harta mereka. Mereka bertanya kepadanya tentang hal itu. Ia menjawab, "Aku melihat Rasulullah Saw dalam mimpi. Beliau berkata kepadaku, Wahai Ishaq, kembalikan kepada mereka harta mereka dan makamkanlah ia di tempat mereka.
Al-Sakhawi bercerita, “Ketika Sayyidah Nafisah merasakan ajalnya sudah dekat, beliau menulis surat wasiat untuk suaminya, dan menggali kubur beliau sendiri di rumahnya. Kubur yang digalinya itu ialah untuk beliau sentiasa mengingatkan akan kematian. Kemudian beliau turun ke liang kubur itu, memperbanyak solat dan mengkhatamkan al-Quran sebanyak 109 kali. Kalau tidak mampu berdiri, beliau solat dengan duduk, memperbanyak tasbih dan menangis. Ketika sudah sampai ajalnya dan beliau sampai pada ayat: “Bagi mereka (disediakan) tempat kedamaian (syurga) di sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal soleh yang selalu mereka kerjakan.” (Surah Al-An’am: 127), beliau pengsan kemudian dan menghembuskan nafas terakhir menghadap Sang Maha Kasih Abadi pada hari Jumaat, bulan Ramadhan 208H.
Sewaktu disembahyangkan sangat ramai orang yang menghadirinya. Sehingga kini maqamnya diziarahi oleh pengunjung dari seluruh pelusuk dunia. Demikian kehebatan yang Allah anugerahkan kepada Sayyidah Nafisah yang terkenal dengan kewarakan kepada Allah dan ketaatannya kepada suami. Semoga ianya menjadi contoh buat generasi wanita akhir zaman ini.

Daftar Pustaka


Category: 0 komentar

Prof. Dr. Zakiah Daradjat

Iseng-iseng kepikiran dengan sosok dosen gue mata kuliah kesehatan mental yang bernama Zakiah Daradjat, masalahnya beliau ini masih memiliki semangat mengajar yang tinggi di saat usianya tidak lagi muda. Mau tahu lebih dalam ah, gue baca bukunya yang berjudul  Kesehatan Mental gk ada biografi penilisnya, ya sudah deh browsing lewat mbah google. Ini loh hasilnya yang menurut gue sebagai biografi si Ibu.

Pandai, dengan nilai rata-rata 9, matematika malah 9,5, kemauan belajar Zakiah keras. Tiba di Yogyakarta setamat SMA, 1951, ia mendaftar di dua perguruan sekaligus. Keduanya lulus tes, baik di Fakultas Tarbiyah, Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN), maupun di Fakultas Hukum, Universitas Islam Indonesia (FH UII). Keduanya ia masuki.
Saat duduk di tingkat III, Zakiah pulang ke desa kelahirannya, Koto Merapak, Bukittinggi, Sumatera Barat. Mendengar ia memborong dua perguruan sekaligus, bekas guru SMP- nya menasihatinya agar memilih satu saja. ”Kamu jangan terlalu memaksa belajar, nanti sakit,” kata ibunya. Dosennya di PTAIN juga pernah mengatakan: kuliah bersamaan di dua tempat itu susah. Akhirnya, si sulung bersaudara 10 itu menurut.

Di tingkat IV Fakultas Tarbiyah, Kiah — demikian panggilan akrabnya — ditawari meneruskan ke Universitas Ein Shams, Kairo, Mesir. Merasa bingung, ia menyurati orangtuanya. Jawaban Haji Daradjat dan Hajjah Rafiah singkat saja, ”Pergilah. Kami tahu kau bisa menjaga diri.”. Delapan setengah tahun (1956-1964) di Mesir, Zakiah belajar ilmu pendidikan dengan spesialisasi psikoterapi, sampai meraih gelar doktor. Pulang kampung, ia langsung bekerja pada Departemen Agama. Sampai Maret 1984, Zakiah Daradjat menjabat Direktur Pembinaan Agama Islam. Ia satu-satunya wanita anggota DPA.Di samping itu, sudah 20 tahun lebih Zakiah membuka praktek konsultasi psikologi di rumah kediamannya. Rata-rata ia menerima lima pasien setiap petang, terdiri dari kaum ibu, bapak, dan remaja. ”Tidak saya pungut bayaran. Kalau mereka memberi, saya terima,” ujarnya.

Tetapi, wanita berkulit kuning ini lebih dikenal sebagai penceramah. Pada 1960-an, ia bisa berceramah lima atau enam kali sehari. Sering tampil di RRI dan TVRI, Zakiah tiap hari, kecuali Ahad, memberikan kuliah subuh di Radio Elshinta, Jakarta. Di IAIN Jakarta dan Yogyakarta, Zakiah masing-masing menjadi guru besar dan memimpin Fakultas Pasca-Sarjana. Cukup sibuk. ”Tapi saya melakukannya dengan senang,” katanya.

Pendidik terkenal itu risau akan kehidupan remaja sekarang, khususnya tentang kasus kumpul kebo. ”Saya kecewa sekali,” ujarnya. Ia mengaitkan kenakalan remaja dengan kurangnya pengawasan orangtua, terutama ibu. Menurut dia, idealnya seorang ibu berada di rumah 3w5 jam sehari. Kurang dari itu berbahaya, katanya.

Sejak 1969, Zakiah menulis puluhan buku. Antara lain, Kesehatan Mental (Gunung Agung, 1969), Ilmu Jiwa Agama, dan Problema Remaja Indonesia (Bulan Bintang, 1970 dan 1974).

Ia pernah berceramah di 10 tempat secara berantai, dan terkejut melihat sejumlah orang yang selalu hadir mengikutinya. ”Mereka mengatakan ingin selalu dekat saya,” katanya. ”Mereka kebanyakan ibu-ibu.”

Penggemar renang yang kini hanya melakukan jogging dan orhiba ini masih memilih hidup sendiri
Nama : ZAKIAH DARADJAT
Lahir : Bukittinggi, Sumatera Barat, 6 November 1929
Agama :Islam
Pendidikan :
-Standard School Muhammadiyah, Bukittinggi (1944)
-Kuliyatul Mubalighat, Padangpanjang (1947)
-SMA, Bukittinggi (1951)
-Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri di Yogyakarta (1955)
-Universitas Ein Shams, Kairo, Mesir (doktor, 1964)
-Sekolah Staf dan Pimpinan Administrasi Departemen Agama, Jakarta (1976)

Karir :
-Pegawai Biro Perguruan Tinggi Agama Departemen Agama (1964-1967)
-Kepala Dinas Penelitian dan Kurikulum pada Direktorat Perguruan Tinggi Agama (1967-1972)
-Direktur Pendidikan Agama (1972-1974)
-Direktur Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam (1977-1984)
-Anggota DPA-RI (1983-198
-Guru Besar IAIN Jakarta (1984-sekarang).

Kegiatan Lain :
-Pimpinan Lembaga Pendidikan Kesehatan Jiwa Universitas Islam Jakarta (1970-1984)
-Ketua Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Ruhama (1984-sekarang)
-Pimpinan Pendidikan Kesehatan Mental YPI Ruhama (1984- sekarang)

Karya :
-Kesehatan Mental, Gunung Agung, 1969
-Ilmu Jiwa Agama, dan Problem Remaja Indonesia, Bulan Bintang, (1970 dan 1974)

Alamat Rumah :
Jalan Fatmawati 6, Kompleks Wisma Sejahtera, Jakarta Selatan Telp: 763937

Alamat Kantor :
IAIN Jakarta, Jalan Ciputat, Jakarta Selatan Telp 741925

Sumber PDAT Tempo
Prof.Dr. Zakiah Darajat:

Peran Televisi Sebagai Pendidik Harus Dihidupkan Terus
Kapanlagi.com - Acara televisi yang merusak moral masyarakat dan tidak sesuai dengan nilai agama harus dipertimbangkan lagi oleh para pihak penyedia siaran, kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang anak dan keluarga, Prof.Dr. Zakiah Darajat.

“Acara siaran televisi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama maupun etika moral masyarakat seharusnya dipertimbangkan lagi oleh para pemilik siaran tersebut, apakah layak atau tidak untuk disiarkan di depan publik,” tegasnya di Jakarta, Rabu.
Ustadzah yang juga psikolog itu mengkhawatirkan akibat buruk dari siaran-siaran yang mengandung unsur kekerasan, seks, dan klenik. Apalagi, siaran tersebut hadir di ruang privat rumah setiap warga yang memiliki televisi, seperti di ruang keluarga dan ruang tidur.
“Penayangan acara mistis yang bisa menumpulkan akal dan logika penonton, ditinjau dari segi agama adalah suatu kesalahan besar,”katanya.
Ia menjelaskan, secara psikologis acara siaran televisi mempunyai pengaruh yang kuat dalam waktu yang lama kepada pikiran penontonnya. Indera pertama yang memiliki pengaruh terkuat pada pikiran adalah penglihatan, kemudian yang kedua adalah pendengaran, dan selanjutnya adalah indera perasa.
Acara televisi yang melibatkan indera penglihatan dan pendengaran penontonnya, menurut dia, memiliki pengaruh yang lebih kuat kepada pikiran penonton dibanding pengaruh media lain.
Zakiah hadir pada rapat dengar pendapat umum antara Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dengan komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di gedung DPR, Senayan pada akhir Juni 2004. Saat itu, ia datang mewakili kalangan ulama untuk memberikan pendapat tentang acara siaran televisi.
Ia juga meminta agar para pemilik organisasi televisi tidak hanya mementingkan aspek komersial seperti penayangan iklan yang tidak mendidik, tetapi juga memikirkan peran mencerdaskan masyarakat yang harus dijalankannya.
Selama ini, menurut dia, acara televisi telah berhasil menyediakan informasi dan mendidik masyarakat, tetapi jangan sampai keberhasilan itu dilukai sendiri oleh para insan pertelevisian yang menayangkan acara yang dapat merusak moral.
“Peran televisi sebagai pendidik harus dihidupkan terus, seharusnya televisi bisa menayangkan acara yang dapat membuka wawasan dan menumbuhkan semangat kreativitas, bekerja dan taat beribadah sebagai ganti dari acara yang merusak moral itu,” demikian Zakiah. (*/erl)
http://bundokanduang.wordpress.com/2008/04/18/zakiah-daradjat/
Sudah cukup deh penjelasannya tentang si Ibu ini, ni dia picture yang gue juga dapet, abis mau jepret langsung takut dimarahin...hehe

seperti itulah gaya bu Zakiah dalam mengajar, penampilan yang sederhana, dengan menggunakan kain untuk dijadikan sebagai pakaian bawahnya. Salut deh untuk Ibu Prof. Dr. Zakiah Daradjat.
Category: 4 komentar

Kursus Toefl Online Murah

About Me

Foto saya
Mahasiswa Magister Akuntansi di Universitas Mercu Buana, Karyawan di PT. Summarecon Agung, Tbk, Alumni STIE Indonesia'07, Psikologi UIN Jakarta '08,

Translator